Desa Tangkit Baru

Desa Tangkit Baru
Diberdayakan oleh Blogger.
    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    Siapa yang tidak kenal kaboet band... Awalnya biasa saja semenjak pertama mengeluarkan lagu yang berjudul "Engkau telah jauh" disinilah mulai dikenal dimasyarakat sekitar, band yang berasal dari desa tangkit baru ini sempat bikin video klip buat band keren ini, sayang sudah lama tidak terdengar lagi, bubar dan sekarang mereka memiliki kesibukan masing – masing padahal pada saat itu belum mencapai puncak, tahu-tahu sudah bubar.




           Berita ini tampaknya sangat tidak disangka mengingat kekompakkan dan keserasian formasi band tersebut dan pada saat penampilan mereka tampil diatas pentas sungguh menarik perhatian penonton, dan kamipun keluarga, temen dekat mendukung sepenuhnya pada saat itu. Namun apa boleh dikata group musik kaboet band hanyalah tinggal kenangan.

    Untuk MP3 n Video clip : 





    Di Desa Tangkit Baru dikenal oleh masyarakat luas dengan hasil pertanian, perikanan dan maupun home industrinya. Hal ini di buktikan karena banyaknya hasil sumber daya alam di Desa Tangkit Baru yang beredar luas di propinsi Jambi maupun diluar propinsi jambi. namun disini saya coba hanya membahas hasil pertanian saja dahulu yaitu buah nanas dan sumber alam yang lain saya akan coba bahas di tread berikutnya.

    Sebagian besar penerus di Desa Tangkit Baru bermata pencaharian sebagai petani nanas dan sudah menjadi profesi yang dijalani oleh sebagian besar masyarakat Desa Tangkit Baru, baik sebagai petani pemilik lahan, atau sebagai buruh tani. dan banyak sekali pemuda di Desa Tangkit Baru yang pergi keluar desa untuk berdagang langsung dari hasil kebun nanasnya sendiri.

    Disamping itu banyak terlahir home indutri atau industri rumahan dari masyarakat Desa Tangkit Baru yang mengolah buah nanas menjadi makanan ringan, adapun industri itu di antaranya : Tuli Mario, Masagena, Insawa, Malomoe, Jaya Indah, Yusra, Mamaseh, Lily, dll. Indutri-industri tersebut mengolah buah nanas menjadi selai nanas goreng, dodol nanas, wajik nanas dan masyarakat di Desa Tangkit Baru pernah mencoba buat hasil olahan buah nanas menjadi kripik nanas, untuk masalah home indistri lebih jelasnya alamat dan sebagainya Klik disini : http://goo.gl/1Fv9zm Adanya home industri juga sangat berperan penting di Desa Tangkit Baru dan hasil olahan indutri rumahan ini sudah menjadi makanan khas jambi dan manjadi tempat lapangan pekerjaan bagi masyaakat di Desa Tangkit Baru.

    Foto: Di Desa Tangkit Baru dikenal oleh masyarakat luas dengan hasil pertanian, perikanan dan maupun home industrinya. Hal ini di buktikan karena banyaknya hasil sumber daya alam di Desa Tangkit Baru yang beredar luas di propinsi Jambi maupun diluar propinsi jambi. namun disini saya coba hanya membahas hasil pertanian saja dahulu yaitu buah nanas dan sumber alam yang lain saya akan coba bahas di tread berikutnya.

Sebagian besar penerus di Desa Tangkit Baru bermata pencaharian sebagai petani nanas dan sudah menjadi profesi yang dijalani oleh sebagian besar masyarakat Desa Tangkit Baru, baik sebagai petani pemilik lahan, atau sebagai buruh tani. dan banyak sekali pemuda di Desa Tangkit Baru yang pergi keluar desa untuk berdagang langsung dari hasil kebun nanasnya sendiri. 

Disamping itu banyak terlahir home indutri atau industri rumahan dari masyarakat Desa Tangkit Baru yang mengolah buah nanas menjadi makanan ringan, adapun industri itu di antaranya : Tuli Mario, Masagena, Insawa, Malomoe, Jaya Indah, Yusra, Mamaseh, Lily, dll. Indutri-industri tersebut mengolah buah nanas menjadi selai nanas goreng, dodol nanas, wajik nanas dan masyarakat di Desa Tangkit Baru pernah mencoba buat hasil olahan buah nanas menjadi kripik nanas, untuk masalah home indistri lebih jelasnya alamat dan sebagainya Klik disini : http://goo.gl/1Fv9zm Adanya home industri juga sangat berperan penting di Desa Tangkit Baru dan hasil olahan indutri rumahan ini sudah menjadi makanan khas jambi dan manjadi tempat lapangan pekerjaan bagi masyaakat di Desa Tangkit Baru.

C2f



          Makkaleleng adalah Bentuk kerjasama yang didasari oleh saling percaya membersihkan kebun secara bergiliran/bergantian dari kebun satu kekebun lainnya secara bergotong royong dengan jumlah yang sudah disepakati bersama, dan Budaya Makkaleleng di Desa Tangkit Baru masih sengat kental dilakukan hingga saat ini, biasanya makkaleleng di Desa Tangkit Baru dilakukan 3-10 orang, namun sistem di Desa Tangkit Baru berbeda dengan Desa-desa lainnya perbedaan ini terlihat dari tanpa adanya pembagian hasil pada saat panen nanas tiba, cukup membersihkan kebun secara bergiliran saja dengan bersama-sama dengan prinsip Situlung-tulung (tolong-menolong), Sikamase-mase (saling mengasihani), sibaling (bekerjasama secara bergiliran), sibantu-bantu (saling membantu). karena prinsip inilah Budaya Makkaleleng masih bertahan sampai saat ini di Desa Tangkit Baru hingga terjalin rasa kekeluargaan yang begitu besar.

    Tangkit Baru

           Disamping itu selain Makkaleleng di Desa Tangkit Baru ada juga yang di sebut dengan Mappuluang. Mappuluang adalah Suatu kegiatan yang dilakukan secara bergotong royong dengan skala besar yang di adakan oleh Orang tertentu dan apabila kegiatan tersebut telah selesai di adakan makan bersama. Kegiatan Mappuluang ini biasanya di Desa Tangkit Baru hanya dilakukan dikediaman Puang (Andre Gurutta') baik itu dari kebun Nanas, Massila Aju (membela kayu dengan kapak), Mappatettong Bola (Membangun rumah), dll.

    Catatan : Massila Aju biasanya dan kebanyakan dilakukan dimalam hari.


           Kegiatan unik yang  sering dilakukan anak-anak Desa Tangkit Baru pada malam hari ialah mattaratio, mattaratio adalah ungkapan bugis yang berarti memikat burung ayam-ayam atau ruak-ruak dengan menggunaan alat traditional yang terbuat dari bambu. Nama mattaratio diambil dari nama unggas itu sendiri dimana orang bugis menyebut unggas ini dengan nama taratio. biasanya kegiatan ini dilakuan 4-5 orang saja, mattaratio di Desa Tangkit Baru bisa dikatakan tradisi musiman, dimana tidak ada waktu-waktu tertentu melakukan kegiatan ini. adapun hasil tangkapan anak-anak tersebut tidak dijual melainkan hanya hiburan semata, dimana bisa kita lihat selepas selesai berburu unggas ini, hasil tangkapan mereka hanya dimakan bersama-sama selepas pulang dari mattaratio.
         
    Alat yang digunakan memikat ayam-ayam/ruak-ruak
          Biasanya anak-anak Desa Tangkit Baru mulai berangkat memikat unggas ini dari jam 7 malam hingga selesai dengan batas waktu yang tidak ditentukan, bila sudah merasa unggas cukup disantap bersama-sama merekapun langsung bergegas pulang, adapun peralatan yang dibawa berburu unggas ini adalah :
     

    1. 2 buah alat tiup tradisioal pemikat ( bergantian )
    2. 1 buah jaring penghalang bila unggas ini terbang
    3. Kurungan hasil tangkapan
    4. Obat nyamuk.

    5. Senter
         Di era sekarang ini yang jaman semakin canggih banyak pemburu unggas jenis ini sudah menggunakan rekaman suara/peniru suara, baik dari handphone, speaker, dan jenis lainnya. namun anak-anak Desa Tangkit Baru enggan menggunakannya, dikarenakan menurut anak-anak tersebut karakter suara jantan unggas ini mempunyai 3 karakter, pertama untuk mengetahui posisi betina, memanggil, dan hasrat kawin. disini kita bisa memprediksi jarak betina dan mengganti sesuai yang diinginkan. bila unggas ini sudah mendekat namun ragu untuk menangkapnya usahakan senter dibagian mata sang unggas bisanya bila sudah disenter unggas ini tidak bergerak.


    catatan : Unggas ini sangat sensitif, bila berburu unggas ini tidak boleh berisik atau banyak gerak, dan biasanya perburuan tidak dilakukan bila sedang bulan purama.



        Didesa Tangkit Baru pada tahun 2000 kebawah tradisi makkaremo masih rutin dilakukan setiap tahunnya, apabila musim kemarau tiba masyarakat desa tangkit baru berbondong-bondong mencari ikan disebuah lubuk, berbekal parang panjang dan karung yang tak lupa membawa nasi bungkus dari rumah, namun banyak juga yang membawa bekal makanan hanya nasi dan garam karna pada saat istirahat hasil tangkapan dibakar dan dikasih garam untuk lauknya. perubahan waktu dan jaman modrn ini tradisi makkaremo sudah jarang terlihat meskipun tidak hilang.
        Pencarian ikan ini juga mempunyai tempat-tempat ideal yang mana setiap tahunnya masarakat selalu mengunjunginya dan memberikan nama-nama khusus diantaranya di parit 10 nama nya lubuk terung tapi lubuk itu di gemari warga sungai terap, parit 9 masyarakat sering menyebutnya dengan sebutan Lubuk Abbisang Jala, parit 8 lubuk biawang, parit 7 disebut Sebrang, parit 6 disebut dengan Sungai Jernih dan tempat-tampat ikan yang lokasinya kecil disebut dengan Longkang.


    Adapun nama-nama ikan yang di dapat diantaranya :

    1. Bale Bolong (ikan gabus)
    2. Bale Tomang (ikan toman)
    3. Bale buju' (???)
    4. Bale serandang ( ??? ) sudah punah <---<< ikan ini unik bila desentuh dia pura-pura mati
    5. Bale ceppe' (ikan Betok)
    6. Bale jangkok ( ikan sepat)
    7. Bale biawang (tembakang)
    8. Oseng (ikan betok besar)
    9. Bale aga firolah (fusa) hehe

    Namun di antara sekian banyaknya lubuk, di Desa Tangkit Baru mempunyai sebuah empang yang cukup besar, masyarakat Desa Tangkit Baru menyebutnya dengan FANGEMPANG LOPPO'E, empang ini kepunyaan Syekh Muhammad Said (Puang Muhammad) yang digali secara gotong royong oleh masyarakat Desa Tangkit Baru tempo dulu. meskipun disebut empang, empang ini tidak diberi bibit, hanya saja setiap tahunnya rutin di bersihkan dan di ambil ikannya, dikarenakan setiap tahunnya empang ini tenggelam.

    Hasil tangkapan di desa Tangkit Baru :

    Click to see fullsize



    Click to see fullsize




    Baso Patolai bergegas menemui tiga kawannya. Satu soal penting yang selama ini terus menghantui sarjana peternakan itu akan jadi topik obrolan mereka kala itu. Yakni tentang kesejahteraan masyarakat Desa Tangkit Baru, desa kecil yang berada 20 kilometer di sebelah selatan Kota Jambi. Tangkit Baru yang menjadi tempat tinggal Baso dan kawan-kawannya berada di Kecamatan Ulu Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

    Desa tersebut dulunya hanya sebuah lahan gambut yang penuh belukar dan genangan air kehitaman. Oleh pemiliknya, penduduk asli Jambi, kawasan itu dianggap tak memberi manfaat sehingga akhirnya ditinggalkan. Tak heran jika perantau asal Bugis ??kaum pendatang?? cukup kesulitan menggerakkan roda perekonomian mereka, apalagi dengan latar kehidupan bahari sebelumnya.

    Akhirnya pertemuan empat sekawan pada enam tahun silam itu membuahkan hasil. Setiap orang diantara mereka akan mencari sembilan orang untuk membentuk kelompok. Singkat cerita telah terkumpul 40 orang dan masing-masing kemudian patungan Rp 1 juta sebagai modal. Modal awal tersebut kemudian digunakan membeli tanah 3,5 hektar seharga Rp 35 juta untuk dijadikan kolam ikan. Dengan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan Jambi yang menyumbangkan mesin penggali (excavator), akhirnya terbentuk 40 kolam. Kelompok mereka dinamai Kelompok Perikanan Mina Sukses dengan Baso sebagai ketuanya.

    Setelah itu kolam langsung diisi dengan benih ikan patin. Rata-rata modal satu kolam sejak benih dimasukkan sampai panen sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Rupanya, modal inilah yang belakangan jadi kendala. ??Usaha kami belum bisa berkembang karena masih kesulitan modal,?? kata Baso yang mengambil pendidikan S2 di Universitas Andalas, Padang.

    Di saat yang sama, pada 2004 Bank Indonesia (BI) dan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tengah mengadakan pelatihan menjadi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). Tujuan utamanya adalah membantu UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) untuk memperoleh dana dari bank. Mereka akan dibekali kemampuan menjadi konsultan keuangan.

    Maka Baso pun mendaftar sebagai peserta. Setahun setelah itu, selain sebagai pembudidaya patin, Baso juga bertugas sebagai KKMB. Sejak saat itu, Baso giat menjemput modal dari bank demi kelanjutan usaha kelompoknya. ??Saya termotivasi untuk bisa mengakses dana dari bank,?? ujar Baso mengaku.

    Berkat semangat membara itulah, pada 2007 Baso berhasil mengakses kredit sekitar Rp 1,4 miliar dari total nilai kredit yang diajukan sebesar Rp 1,9 miliar. Kredit tersebut merupakan realisasi 12 proposal dari 14 proposal yang diajukan. Atas prestasinya, Baso terpilih menjadi KKMB teladan I 2007.

    Kini UMKM binaan Baso yang juga peraih Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan tingkat Provinsi Jambi pada 2005, mencapai 100 lebih yang tergabung dalam 18 kelompok. Usaha budidaya patin di Tangkit Baru saat ini telah mampu berproduksi 15 ton per hari. Usaha tersebut bahkan telah terintegrasi dengan usaha pembuatan pakan, transportasi, pembenihan sampai ke pengolahan patin, yakni abon ikan patin dan salai ikan patin skala rumah tangga.
    Senjata Lawan Kemiskinan
    Kisah sukses Baso mendapatkan pinjaman modal dari bank juga diikuti oleh dua KKMB lainnya, Sulaeman dan Suci Nur Laila. Sulaeman, sarjana ekonomi yang sehari-hari menjadi pengajar sosiologi di Sumatera Utara ini berpredikat sebagai KKMB sejak 2005. Pada 2007 dia berhasil memperoleh kredit sebesar Rp 430 juta dari total kredit yang diajukan senilai Rp 13,13 miliar. Proposal yang disetujui adalah 2 dari 9 proposal yang diajukan.

    Sedangkan Suci, penerima penghargaan KKMB Teladan III, berhasil merealisasikan kredit UMKM sebesar Rp 310 juta yang berasal dari 12 proposal UMKM binaan di Sidoharjo, Jawa Timur. Di wilayah tersebut, Suci yang juga aktif di LSM membantu kaum perempuan mencari tambahan penghasilan. Yaitu dengan menumbuhkan industri pengolahan hasil perikanan seperti kerupuk ikan.

    Para KKMB menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan ?C DKP,  Martani Huseini sengaja dibentuk demi melayani UMKM, kaum akar rumput yang miskin modal. ??Tugas utama mereka melatih UMKM berhubungan dengan pendanaan. Karena itu dia harus mengerti soal teknis dan perbankan,?? kata Martani.

    www.trobos.com

    Arief Sukses dengan Kolam Ikan 1 Hektare
    Kolam ikan milik Arief yang luasnya mencapai 1 hektat
    Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi mungkin lebih populer sebagai penghasil nanas. Padahal di sana, sejumlah orang beternak ikan dan menjadi sentra untuk didistribusikan ke berbagai tempat. Bahkan, di Tangkit pula ada kolam ikan seluas satu hektare.
    Adalah Arief (50) satu diantara peternak ikan patin di Desa Tangkit Baru. Yang membedakan Arief dengan peternak lainnya adalah, luasan kolam yang ia buat. Kolam seluas 1 hektare yang dimilikinya, disebut yang pertama di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara.
    "Iya, di Indonesia baru ada di Tangkit Baru, dan untuk Asia Tenggara baru ada di Thailand dan Indonesia," ujar Arief saat bertemu Tribun beberapa waktu lalu.
    Usahanya yang kini besar itu, bukan datang begitu saja. Ia membangunnya pada tahun 2010, yang awalnya hanya tiga kolam. Ia merasakan jatuh bangun merintis usaha budidaya ikan patin termasuk saat memasarkannya.
    "Wah, saya dulu pokoknya sudah puas kena tipu sana-sini Mas. Apalagi pelaku budidaya ikan patin ini kan sudah ada sejak dulu. Pernah saya ditipu pedagang yang memesan ikan, tetapi uang yang saya terima tidak ada. Kalau dikalkulasi jumlah uang yang tidak saya dapat bisa mencapai jutaan rupiah," katanya mengenang.
    Pengalaman getir itu menjadi pelajaran penting baginya tanpa kehilangan semangat berusaha. Kemudian, Arief pun sering mengikuti pelatihan dan pembekalan cara beternak ikan yang baik dan benar.
    "Saya sering ikut pelatihan, bahkan bantuan dari perusahaan swasta seperti EMP Gelam cukup menjadi motivasi dan bantuan yang berguna untuk saya," tuturnya.
    Prinsip ingin maju dan mensejahterakan warga sekitar pun dilakukannya dengan mengajak beberapa warga untuk membantunya beternak. Ia menerapkan sistem bagi hasil. Alhasil dari tiga kolam yang dimiliki dengan selang waktu empat tahun, Arief kini memiliki 100 kolam ikan patin dan ikan lainnya serta satu kolam dengan luas satu hektare tersebut.
    Setiap hari saja, ia dan rekan-rekannya dapat memanen 1,5 ton ikan segar. Selanjutnya ikan itu dilempar ke sejumlah pasar dalam Provinsi Jambi dan luar Jambi.
    "Saya kini sudah mengajak lebih dari 50 orang warga untuk mengelola kolam yang saya miliki, dan memelihara 10 “tuyul” untuk menjualnya,"sebutnya sambil tertawa.
    Maksud “tuyul” yang dikatakan Arief tersebut ialah, pegawai yang membantunya untuk memasarkan ikan ke pasar-pasar besar yang ada di Kota Jambi dengan menggunakan motor. Kendaraan itu ia beli dan para tenaga pemasaran tersebut mencicil.
    Untuk kolam seluas satu hektare yang dimilikinya, untuk satu kali panen dapat menghasilkan ikan segar sebanyak 64 ton. Bibit ikan yang ditabur ke kolam ini juga tidak tanggung-tanggung yaitu sebanyak 275.000 ekor. Dengan pakan sebanyak 150 kilogram sekali tebar.

    Sumber : eko prasetyo Tribun Jambi

Mengenai Saya

Foto saya
jambi, Indonesia
Andi Amirullah (Petta Arullah) asekku' berdarah bugis tulen, lahir dalam keluarga petani yang sederhana di sebuah Desa Tangkit Baru dimana tempatku itu mayoritas penduduknya suku bugis, saya menulis dan menyalin sejarah Desa Tangkit Baru dikarenakan saya mencintai kampung halamanku agar esok generasi yang akan datang dapat mengetahui sejarah berdirinya desa ini.


Top