Desa Tangkit Baru

Desa Tangkit Baru
Diberdayakan oleh Blogger.
    • Latest Stories

      What is new?

    • Comments

      What They says?

    , , ,

    Biografi Syekh Muhammad Sa’id (Puang Muhammad)

    Pelita Ruhani dan Perintis Desa Tangkit Baru

    Syekh Muhammad Sa’id

    Di tengah hamparan rawa-rawa Jambi yang sunyi dan belum tersentuh pembangunan, muncullah seorang lelaki sederhana, bersarung, dan peci bugis (songkok bugis). Ia datang bukan membawa kekuasaan, melainkan cahaya ilmu, keyakinan, dan doa. Dialah Syekh Muhammad Sa’id, yang dikenal pula sebagai Puang Muhammad, seorang ulama yang kelak menjadi poros utama terbentuknya desa Tangkit Baru.

    Tangkit Baru dulu bukanlah tempat yang mudah dihuni. Hutan rawa, Air hitam, binatang buas, dan belukar lebat adalah teman sehari-hari bagi siapa pun yang tinggal. Namun Syekh Muhammad Sa’id melihatnya bukan sebagai kesulitan, melainkan kesempatan perjuangan. Ia memimpin bukan dengan suara keras, tapi dengan keteladanan dan kesabaran. Bersama para Putra dan perintis lainnya, ia membuka jalan, membersihkan lahan, dan membangun perkampungan yang kelak menjadi tempat bernaung generasi masa depan.

    Syekh Muhammad Sa’id dikenal masyarakat sebagai guru ruhani yang mendalam. Ia mengajarkan tawadhu’, tauhid, dan amaliyah nyata. Beliau tidak hanya mendirikan majelis ilmu, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam suka dan duka, menengahi konflik, dan memberi nasihat dengan kalimat yang penuh hikmah. Setiap petuahnya menyentuh, dan setiap gerak-geriknya mencerminkan kebijaksanaan seorang wali Allah.

    Meski tak banyak peninggalan fisik yang bisa disentuh, namun warisan Syekh Muhammad Sa’id hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Tangkit Baru. Ia mewariskan akhlak, keberanian, dan visi hidup Islami. Para orang tua masih menyebut namanya dalam doa, dan para cucunya tumbuh dengan mendengar cerita tentang beliau. Ia adalah sosok yang membentuk wajah kampung—dari segi batin, bukan sekadar bangunan.

    Hari ini, ketika pembangunan berdiri megah dan jalan-jalan telah terbuka, nama beliau perlahan mulai memudar di ingatan generasi muda. Tapi sejarah sejati tidak pernah mati. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali. Melalui halaman ini, kita ingin mengabadikan jejak beliau, agar Tangkit Baru tidak lupa dari siapa ia berasal, dan agar anak cucu tahu: desa ini dibangun bukan hanya dengan Cangkul dan Kapak, tapi dengan dzikir, air mata, dan ketulusan seorang ulama bernama Syekh Muhammad Sa’id.

    Semoga Allah SWT merahmati beliau, mengangkat derajatnya di sisi para wali-Nya, dan menjadikan kita bagian dari penerus perjuangan beliau. Amin.




    Baso Patolai bergegas menemui tiga kawannya. Satu soal penting yang selama ini terus menghantui sarjana peternakan itu akan jadi topik obrolan mereka kala itu. Yakni tentang kesejahteraan masyarakat Desa Tangkit Baru, desa kecil yang berada 20 kilometer di sebelah selatan Kota Jambi. Tangkit Baru yang menjadi tempat tinggal Baso dan kawan-kawannya berada di Kecamatan Ulu Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

    Desa tersebut dulunya hanya sebuah lahan gambut yang penuh belukar dan genangan air kehitaman. Oleh pemiliknya, penduduk asli Jambi, kawasan itu dianggap tak memberi manfaat sehingga akhirnya ditinggalkan. Tak heran jika perantau asal Bugis ??kaum pendatang?? cukup kesulitan menggerakkan roda perekonomian mereka, apalagi dengan latar kehidupan bahari sebelumnya.

    Akhirnya pertemuan empat sekawan pada enam tahun silam itu membuahkan hasil. Setiap orang diantara mereka akan mencari sembilan orang untuk membentuk kelompok. Singkat cerita telah terkumpul 40 orang dan masing-masing kemudian patungan Rp 1 juta sebagai modal. Modal awal tersebut kemudian digunakan membeli tanah 3,5 hektar seharga Rp 35 juta untuk dijadikan kolam ikan. Dengan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan Jambi yang menyumbangkan mesin penggali (excavator), akhirnya terbentuk 40 kolam. Kelompok mereka dinamai Kelompok Perikanan Mina Sukses dengan Baso sebagai ketuanya.

    Setelah itu kolam langsung diisi dengan benih ikan patin. Rata-rata modal satu kolam sejak benih dimasukkan sampai panen sekitar Rp 10 juta sampai Rp 15 juta. Rupanya, modal inilah yang belakangan jadi kendala. ??Usaha kami belum bisa berkembang karena masih kesulitan modal,?? kata Baso yang mengambil pendidikan S2 di Universitas Andalas, Padang.

    Di saat yang sama, pada 2004 Bank Indonesia (BI) dan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tengah mengadakan pelatihan menjadi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). Tujuan utamanya adalah membantu UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) untuk memperoleh dana dari bank. Mereka akan dibekali kemampuan menjadi konsultan keuangan.

    Maka Baso pun mendaftar sebagai peserta. Setahun setelah itu, selain sebagai pembudidaya patin, Baso juga bertugas sebagai KKMB. Sejak saat itu, Baso giat menjemput modal dari bank demi kelanjutan usaha kelompoknya. ??Saya termotivasi untuk bisa mengakses dana dari bank,?? ujar Baso mengaku.

    Berkat semangat membara itulah, pada 2007 Baso berhasil mengakses kredit sekitar Rp 1,4 miliar dari total nilai kredit yang diajukan sebesar Rp 1,9 miliar. Kredit tersebut merupakan realisasi 12 proposal dari 14 proposal yang diajukan. Atas prestasinya, Baso terpilih menjadi KKMB teladan I 2007.

    Kini UMKM binaan Baso yang juga peraih Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan tingkat Provinsi Jambi pada 2005, mencapai 100 lebih yang tergabung dalam 18 kelompok. Usaha budidaya patin di Tangkit Baru saat ini telah mampu berproduksi 15 ton per hari. Usaha tersebut bahkan telah terintegrasi dengan usaha pembuatan pakan, transportasi, pembenihan sampai ke pengolahan patin, yakni abon ikan patin dan salai ikan patin skala rumah tangga.
    Senjata Lawan Kemiskinan
    Kisah sukses Baso mendapatkan pinjaman modal dari bank juga diikuti oleh dua KKMB lainnya, Sulaeman dan Suci Nur Laila. Sulaeman, sarjana ekonomi yang sehari-hari menjadi pengajar sosiologi di Sumatera Utara ini berpredikat sebagai KKMB sejak 2005. Pada 2007 dia berhasil memperoleh kredit sebesar Rp 430 juta dari total kredit yang diajukan senilai Rp 13,13 miliar. Proposal yang disetujui adalah 2 dari 9 proposal yang diajukan.

    Sedangkan Suci, penerima penghargaan KKMB Teladan III, berhasil merealisasikan kredit UMKM sebesar Rp 310 juta yang berasal dari 12 proposal UMKM binaan di Sidoharjo, Jawa Timur. Di wilayah tersebut, Suci yang juga aktif di LSM membantu kaum perempuan mencari tambahan penghasilan. Yaitu dengan menumbuhkan industri pengolahan hasil perikanan seperti kerupuk ikan.

    Para KKMB menurut Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan ?C DKP,  Martani Huseini sengaja dibentuk demi melayani UMKM, kaum akar rumput yang miskin modal. ??Tugas utama mereka melatih UMKM berhubungan dengan pendanaan. Karena itu dia harus mengerti soal teknis dan perbankan,?? kata Martani.

    www.trobos.com

    Arief Sukses dengan Kolam Ikan 1 Hektare
    Kolam ikan milik Arief yang luasnya mencapai 1 hektat
    Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi mungkin lebih populer sebagai penghasil nanas. Padahal di sana, sejumlah orang beternak ikan dan menjadi sentra untuk didistribusikan ke berbagai tempat. Bahkan, di Tangkit pula ada kolam ikan seluas satu hektare.
    Adalah Arief (50) satu diantara peternak ikan patin di Desa Tangkit Baru. Yang membedakan Arief dengan peternak lainnya adalah, luasan kolam yang ia buat. Kolam seluas 1 hektare yang dimilikinya, disebut yang pertama di Indonesia dan kedua di Asia Tenggara.
    "Iya, di Indonesia baru ada di Tangkit Baru, dan untuk Asia Tenggara baru ada di Thailand dan Indonesia," ujar Arief saat bertemu Tribun beberapa waktu lalu.
    Usahanya yang kini besar itu, bukan datang begitu saja. Ia membangunnya pada tahun 2010, yang awalnya hanya tiga kolam. Ia merasakan jatuh bangun merintis usaha budidaya ikan patin termasuk saat memasarkannya.
    "Wah, saya dulu pokoknya sudah puas kena tipu sana-sini Mas. Apalagi pelaku budidaya ikan patin ini kan sudah ada sejak dulu. Pernah saya ditipu pedagang yang memesan ikan, tetapi uang yang saya terima tidak ada. Kalau dikalkulasi jumlah uang yang tidak saya dapat bisa mencapai jutaan rupiah," katanya mengenang.
    Pengalaman getir itu menjadi pelajaran penting baginya tanpa kehilangan semangat berusaha. Kemudian, Arief pun sering mengikuti pelatihan dan pembekalan cara beternak ikan yang baik dan benar.
    "Saya sering ikut pelatihan, bahkan bantuan dari perusahaan swasta seperti EMP Gelam cukup menjadi motivasi dan bantuan yang berguna untuk saya," tuturnya.
    Prinsip ingin maju dan mensejahterakan warga sekitar pun dilakukannya dengan mengajak beberapa warga untuk membantunya beternak. Ia menerapkan sistem bagi hasil. Alhasil dari tiga kolam yang dimiliki dengan selang waktu empat tahun, Arief kini memiliki 100 kolam ikan patin dan ikan lainnya serta satu kolam dengan luas satu hektare tersebut.
    Setiap hari saja, ia dan rekan-rekannya dapat memanen 1,5 ton ikan segar. Selanjutnya ikan itu dilempar ke sejumlah pasar dalam Provinsi Jambi dan luar Jambi.
    "Saya kini sudah mengajak lebih dari 50 orang warga untuk mengelola kolam yang saya miliki, dan memelihara 10 “tuyul” untuk menjualnya,"sebutnya sambil tertawa.
    Maksud “tuyul” yang dikatakan Arief tersebut ialah, pegawai yang membantunya untuk memasarkan ikan ke pasar-pasar besar yang ada di Kota Jambi dengan menggunakan motor. Kendaraan itu ia beli dan para tenaga pemasaran tersebut mencicil.
    Untuk kolam seluas satu hektare yang dimilikinya, untuk satu kali panen dapat menghasilkan ikan segar sebanyak 64 ton. Bibit ikan yang ditabur ke kolam ini juga tidak tanggung-tanggung yaitu sebanyak 275.000 ekor. Dengan pakan sebanyak 150 kilogram sekali tebar.

    Sumber : eko prasetyo Tribun Jambi



    Geliat Proyek Kemakmuran Hijau kini telah menjalar ke banyak daerah di Indonesia. Salah satu lokasi yang menjadi lokasi proyek adalah Kabupaten Muaro Jambi yang menjadi kabupaten starter. Di Kabupaten Muaro Jambi ternyata banyak menyimpan potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi industri kecil yang sangat berdaya menggerakkan perekomonian rakyat. Perkebunan nenas yang cukup banyak dikelola rakyat tak nyana menjadi sumber pendapatan yang cukup bernilai. Perkebunan nenas ini berlokasi di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, dikelola oleh masyarakat pendatang asal Sulawesi Selatan yang telah turun temurun menempati daerah tersebut.

    Dalam kunjungan kerja ke Provinsi Jambi, Rabu (04/06/2014) Anggota Majelis Wali Amanat MCA-Indonesi yaitu Mangara Tambunan, Zumrotin K. Soesilo dan Tini Hadad melihat langsung proses pembuatan dodol yang berbahan baku nenas. Proses pengerjaan dilakukan oleh tenaga kerja perempuan dari usia yang berbeda. Industri pembuatan makanan khas daerah yang unik ini menjadi sentra usaha bagi banyak rumah tangga. Tak hanya dodol, buah nenas diolah secara kreatif menjadi makanan kecil yang unik seperti nanas selai goreng, bolu selai nenas dan keripik nenas. Industri kecil ini mulai dikembangkan tahun 2011. Bersumber dari satu kepala keluarga, hingga kini usaha ini menjadi pendapatan banyak rumah tangga penduduk Desa Tangkit Baru. Hasil produksinya tidak hanya memenuhi konsumsi daerah lokal, tapi sudah merambah ke Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara hingga Saudi Arabia. Campur tangan Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi tak lepas dalam segi pemasarannya. Pemerintah daerah memfasilitasi pemasaran dan promosi dalam acara pameran seperti yang dilakukan pada Pekan Nasional di Malang, Jawa Timur minggu ini. Kini, panganan khas daerah ini dapat dijumpai di toko, pasar modern hingga bandara. Melihat potensi ini, Zumrotin mengusulkan agar panganan khas yang unik ini menjadi souvenir bagi turis domestik dan mancanegara yang disediakan secara gratis di hotel dan penginapan. Cara ini dinilai ampuh sebagai promosi untuk menarik minat wisatawan untuk membeli sebagai buah tangan kembali ke daerahnya masing-masing. 
    Selain perkebunan nenas, mata pencarian rakyat yang sangat menguntungkan berasal dari sektor perikanan. Terdapat sedikitnya 40 kelompok pembudidaya khususnya ikan lele di desa ini. Satu kelompok terdiri atas 12 orang anggota yang semuanya mengelola tambak ikan lele. Kelompok perikanan ini mulai dibentuk pada awal tahun 2013 atas dasar Surat Keputusan Camat. “Dulunya banyak yang berbudidaya ikan patin tahun 2009, tapi kini telah beralih ke ikan lele karena penjualan ikan patin terpuruk ” kata Baso Intang, Ketua Kelompok Pembudidaya Majiwa. Kelompok perikanan dibentuk atas semangat masyarakat untuk mengurangi persaingan antara pedagang dan tengkulak. Persaingan ini berimbas pada harga jual lele di pasar yang tidak stabil dan sangat merugikan pemilik kolam. Dengan adanya kelompok perikanan, masyarakat menjadi sangat terbantu dari sisi pemasaran. Selain itu, kelompok perikanan ini menjadi media komunikasi dan informasi terkait pembudidayaan lele.

    Ditanya seputar kendala yang dihadapi, Baso Intang menjelaskan kebutuhan ikan lele masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lele di Kabupaten Muaro Jambi. Debit air yang kurang besar menyebabkan pertumbuhan lele menjadi terhambat. Pemilik kolam sangat jarang memiliki mesin pompa yang dapat mengalirkan air sungai ke kolamnya. Masyarakat melakukan budidaya lele mulai dari proses pendederan hingga pembesaran. Dalam satu bulan, kelompok budidaya lele dapat memanen sebanyak 15 ton. Harga yang dijual kepada distributor berkisar Rp 17.000/kg. Anggota kelompok dapat menikmati keuntungan hingga 20%-25% per transaksi. Suatu bentuk usaha yang menggerakkan perekonomian masyarakat.

    Kelak, Program Compact MCC akan menciptakan multiplier effect semacam ini dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masayarakat. Pola Industri kecil yang dikembangkan masyarakat di Desa Tangkit Baru, merupakan salah satu contoh usaha yang telah beranjak maju dan dapat menjadi role model atau “tutor” untuk usaha integrasi sejenis di daerah pengembangan. Dengan mengusung sebuah kerjasama dalam kongsi perdagangan dan transfer teknologi sederhana, bentuk kooperatif semacam ini sangat layak untuk dikembangkan di daerah implementasi Proyek Kemakmuran Hijau ke depan. Usaha yang dikembangkan juga merupakan sebuah perluasan dari bidang manajemen sumber daya alam untuk tetap menghasilkan kegiatan ekonomi secara ramah lingkungan. (LM/MA)

    Dalam kunjungan kerjanya, ke Desa Tangkit Baru, Kabupaten Muaro Jambi, siang tadi. Gubernur HBA melaksanakan Sholat Jum’at bersama Jama’ah Masjid Saidiyah, dan warga masyarakat Tangkit Baru. Tanpak, bersama Gubernur Jambi, Drs.H. Hasip Kalimuddin Syam,MM Ketua LAM Provinsi Jambi. Juga, terlihat dirinya mendapat salaman dari Majelis Ulama, Desa Tangkit. (ft/dok/Istimewa-Neone/Novri-Hms-1).
    NEWS-KPK-JAMBI,- Ekonomi. Drs.H.Hasan Basri Agus,MM (HBA) Gubernur Jambi, berjanji akan membangun Pabrik Pakan Ikan Terapung, Desa Tangkit Baru, Kabupaten Muaro Jambi. Pembangun, lain tak bukan untuk meningkatkan produksi ikan di wilayah Jambi, dan sekitarnya sebagai penyuplai kebutuhan konsumsi ikan masyarakat Jambi.
    Pembangunan Pabrik Pakan Ikan terapung, di Desa Tangkit Baru, disampaikan  Gubernur HBA dan segera dibangun dalam tahun ini, 2014.Pabrik, kata Orang Nomor Wahid dijajaran Pemerintah Daerah Provinsi Jambi, “tahun ini” dengan dana Rp.3,2 Milliar bersumber dari APBD Pemerintah Provinsi Jambi," ungkap Gubernur HBA.
    Janji yang kan segera direalisasikan itu,  disampaikan dalam kunjungan kerjanya ke Desa Tangkit Baru, Kabupaten Muaro Jambi, Jum’at  28 Maret 2014, siang  tadi.
    Dikatakannya, selama ini petani sering mengeluhkan ketersediaan pakan ikan untuk meningkatkan produksi serta harga jual yang rendah akibat tingginya harga pakan dipasaran.
    "Pakan terlalu mahal dan harga jual terlalu murah, akhirnya terpecahkan dengan pembangunan pabrik pada tahun ini," jelasnya.
         Pembangunan Pabrik Pakan Ikan, diceritakan HBA bermula dari kurangnya produksi ikan di Jambi yang menggugah keinginannya untuk membantu petani ikan dengan melakukan kunjungan kerja di salah satu Pabrik Pakan Ikan dari wilayah Bogor, Provinsi Jawa barat.


    Terlihat Gubernur HBA menerima seberkas dalam Map, dari Tokoh Masyarakat Desa Tangkit Baru. Gambar sebelahnya, Gubernur HBA dan Ketua LAM Provinsi Jambi melaksanakan Sholat Sunat, sebelum Sholat Jum’at, di Masjid Masjid Saidiyah, Tangkit Baru, Jum’at 28 Maret 2014, siang tadi. (ft/dok/Istimewa-Neone/Novri-Hms-1)
    Dengan, harapan pendirian Pabrik Pakan Ikan di Tangkit baru, diharapkan mampu meningkatkan hasil serta perekonomian masyarakat.
    Pabrik di sini, katanya. “Untuk, memenuhi kebutuhan daerah Tangkit dan sekitar kota," tambah Mantan Bupati Sarolangun yang satu ini.
    Harapanya, setelah Pabrik Pakan Ikan terbangun, produksi ikan di Provinsi Jambi semakin meningkat dan berkaca pada Unit Pengolahan Ikan di Kemingking. Serta  mampu menaikkan harga jual ikan yang semula Rp9.000 per kilogram meningkat menjadi Rp14.000,-
    "Unit Pengolahan Ikan (UPI) sudah jalan, harga jual ikan juga meningkat," tegasnya.
    Selain membangun Pabrik Pakan Ikan Terapung, Gubernur HBA juga menghimbau petani terus mengelola 575 Kolam yang sudah dibangun pemerintah untuk terus berproduksi."Kolam ikan yang dibuka, jangan sampai berkurang," tambahnya berharap untuk dilanjutkan.
    Usai Sholat Jum’at, Gubernur HBA mendapat kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, dan tanpak Jama’ah Masjid terlihat serius mendengar sambutan Gubrnur Jambi, yang selanjutnya meninjau lokasi Pembanguna Pabrik Pakan Ikan Terapung, di Desa Tangkit Baru. (ft/dok/Istimewa-Neone/Novri-Hms-1).


    Masih menur Gubernur Menurut HBA, “Tangkit dulunya, sebagai Lumbung Ikan dan Nanas,  yang sampai saat ini terus didorong produksinya. "Kita terus, dukung dengan program Pemerinbtah Provinsi Jambi," ungkapnya.
    Sebelumnya, Gubernur HBA menunaikan Sholat Jum'at berjamaah di Masjid Saidiyah bersama masyarakat Tangkit Baru. Sementara, H. Saifuddin,A.MK,SE Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi menyampaikan, Pabrik Pakan Ikan akan dibangun di atas lahan seluas setengah hektar untuk menyuplai 2.400 Kolam yang ada di Tangkit.
    Pabrik Pakan Ikan, katanya. Harus dibangun, yang saat ini akan kita umumkan, selanjutnya diproses  untuk pembangunannya," kata Kadis Perikanan Provinsi Jambi.
    Dalam keterangannya, Saifudin menyampaikan, Gubernur HBA memberi bantuan bibit ikan sebanyak 1.000.150  untuk 575 Kolam Ikan, yang ada disini.
         "Kita merupakan, provinsi kedua untuk pembangunan Pabrik Pakan Ikan dan kita gunakan semua bahan lokal dengan kemampuan produksi 25 Ton perhari," kata Saifudin.


    Sebelum meninggalkan Masjid Saidiyah, Gubewrnur Jambi juga meneyerah bantuan dan diteriam pengurus Masjid, dan terlhat dirinya sempat berdialog sambil keluar Masjid, oleh salah seorang Warga Desa Tangkit Baru. (ft/dok/Istimewa-Neone/Novri-Hms-1).

    Menyinggung  produk pakan, Saifudin menyampaikan, produksi pakan ikan adalah untuk petani lokal dan belum direncanakan dalam skala yang besar. "Produksi kita, khusus untuk Jambi," tegasnya.
    Ikut mendampingi kunjungan kerja Gubernur Jambi, Ir.H. Haviz Husaini,MM Asisten Ekbang dan Kessos Sekda Provinsi Jambi, Hendrizal,S.Pt,MM   Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Jambi, Ir. Amrin Aziz,M.Si Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan, Ir.Akhdiyat Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Pejabat terkait dari Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi. (Neone-Drs.Zainul Aris Amran/Rhan-Hms-1).




    Desa tangkit baru dulunya sangat menyeramkan hanya di penuhi hutan belantara dihiasi dengan rawa-rawa dan digenangi air setinggi pundak,daerah itu ibarat gadis belum " Dipoles " mengapa dikatakan demikian, karena lokasi itu sungguh tiada tanda-tanda kehidupan... desa-desa disekelilingpun enggan meliriknya, karna kegigihan orang tua sedikit demi sedikit mendandani daerah tersebut sehingga terbentuklah sebuah kata DESA.

    Sekarang desaku sungguh polos dan chantik aduhai, indah seperti karunia tuhan yang tak ternilai, ih... desaku sungguh imut sehingga desa-desa yang dulu cuex minta ampun sekarang memperebukatnnya. Aku sungguh bangga dengan orang tua dulu yang telah membangun desa tangkit baru seperti sekarang...

    Desaku sekarang seperti GADIS PERAWAN yang diperebutkan lelaki. Bila desaku bisa bicara dia pasti berkata " HAI DIMANA DIRIMU DULU KAWAN MENTELANTARKAN DIRIKU, KETIKA DIRIKU CHANTIK ENGKAU MEMBUTUHKAN DIRIKU, TAPI PERLU ENGKAU INGAT BILA ENGKAU MENGAMBILKU DENGAN PAKSA WARGAKU TAK AKAN MELEPASKANKU BEGITU SAJA KARNA WARGAKU BUKANLAH SEORANG PECUNDANG.

    Kata-kata ini terinspirasi ketika aku pulang kekampung halamanku di desa tangkit baru, TGL 15-05-10.

Mengenai Saya

Foto saya
jambi, Indonesia
Andi Amirullah (Petta Arullah) asekku' berdarah bugis tulen, lahir dalam keluarga petani yang sederhana di sebuah Desa Tangkit Baru dimana tempatku itu mayoritas penduduknya suku bugis, saya menulis dan menyalin sejarah Desa Tangkit Baru dikarenakan saya mencintai kampung halamanku agar esok generasi yang akan datang dapat mengetahui sejarah berdirinya desa ini.


Top